RSS

Keaksaraan Fungsional (KF)

20 Feb

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sesuai dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang diikuti oleh PP No. 19 Tahun 2005, serta UU Guru dan Dosen, bahwa guru sebagai sebuah profesi harus memenuhi beberapa kompetensi. Salah satu elemen kompetensi yang harus melekat pada profesi guru tercakup dalam rumpun kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik/guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, agar guru sebagai pendidik memiliki kemampuan yang diamanatkan dalam UU dan PP tersebut, maka diperlukan sebuah kegiatan bagi guru yang sedang mengikuti pendidikan S1 untuk melatih keterampilan mereka dalam berkehidupan sosial serta memberikan kontribusi dalam masyarakat di lingkungannya.

Walaupun sudah menjadi guru yang tentunya sudah mempunyai prior knowledge tentang ke-SD-an, namun agar kompetensi sosial sebagai seorang pendidik berkembang, maka diperlukan pengasahan lebih lanjut terutama dalam hal mempraktekkan konsep-konsep metodik pedagogik yang dipelajari dalam masyarakat. Salah satu bentuk kegiatan yang sesuai untuk mengembangkan kompetensi tersebut adalah program pemberantasan buta huruf.

Program pemberantasan buta huruf merupakan tindak lanjut dari amanat UUD 1945, dimana pemerintah telah menempuh banyak cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, baik melalui jalan formal maupun non formal. Tetapi hasil yang dicapai belum memadai, terbukti dengan masih banyaknya tingkat warga negara yang menyandang predikat buta aksara dan buta aksara lanjutan. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya warga negara mendapat kesempatan belajar akibat tingginya tingkat kemiskinan sehingga warga tidak dapat memfasilitasi dirinya untuk belajar.

Masyarakat yang buta aksara jarang sekali mengakui secara terbuka bahwa dirinya buta huruf. Bahkan mereka enggan untuk mau belajar membaca, menulis, berhitung serta berkomunikasi. Walaupun ada kemauan tetapi terhambat oleh kemiskinan. Masyarakat yang seperti itu tidak akan mampu meningkatkan mutu dan taraf hidupnya. Untuk memotivasi warga yang buta aksara dalam pembelajarannya maka diperlukan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kultur yang ada agar tingkat buta aksara dapat diperkecil.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana tahapan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan?
  2. Bahan ajar, media, dan sumber apakah yang digunakan dalam pembelajaran keaksaraan fungsional?
  3. Apa hambatan dan bagaimana mengatasi hambatan yang dihadapi Warga Belajar?
  4. Bagaimana kemajuan dan hasil belajar yang dicapai Warga Belajar selama proses kegiatan berlangsung?

1.3 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dari laporan kegatan pembelajaran keaksaraan fungsional (tingkat keaksaraan dasar) ini adalah :

  1. Untuk mengetahui tahapan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
  2. Untuk mengetahui bahan belajar, media dan sumber yang digunakan
  3. Untuk mengetahui hambatan dan strategi yang digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi Warga Belajar.
  4. Untuk mengetahui kemajuan dan hasil yang dicapai oleh Warga Belajar selama proses kegiatan berlangsung.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kegiatan Pembelajaran yang Dilaksanakan

Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran keaksaraan fungsional (tingkat keaksaraan dasar) dilaksanakan meliputi beberapa tahapan. Ini dilakukan agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. 1. Menentukan calon Warga Belajar (WB) yang akan dibimbing dengan pengisian angket (terdapat dalam lampiran).

Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara mendatangi rumah-rumah warga masyarakat yang tercatat dalam data warga masyarakat yang buta aksara yang diberikan oleh Kelian Banjar Dinas Seloni. Kegiatan ini mendapat beberapa hambatan. Salah satu diantaranya adalah banyaknya warga yang mengaku sudah melek huruf meskipun setelah dilakukan tes ternyata tidak mengenal huruf sama sekali, selain itu ada juga warga yang mangaku tidak mempunyai waktu untuk belajar, sudah tidak mampu melihat dengan jelas (rabun), dan banyak lagi alasan yang mereka katakan. Namun setelah diadakan pendekatan-pendekatan maka warga yang berhasil diajak untuk belajar hanya berjumlah 7 orang itupun dengan iming-iming uang.

  1. 2. Menentukan kesepakatan belajar yang dilakukan pada pertemuan pertama yaitu pada tanggal 11 April 2009 (terdapat dalam lampiran)

Kesepakatan belajar tersebut tercapai dengan mempertimbangkan waktu yang dimiliki oleh Warga Belajar dan Tutor sehingga disepakati bahwa kegiatan belajar berlangsung sebanyak dua kali seminggu yaitu setiap hari Sabtu dan Minggu Pk. 19.00 s/d 21.00 Wita.

  1. 3. Mengidentifikasi kemampuan awal dan kebutuhan belajar WB

Kegiatan identifikasi ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Warga Belajar yang kemudian dituangkan ke dalam formulir Format 1a (terdapat dalam lampiran).

  1. 4. Membuat Program Kegiatan Pembelajaran

Program ini dibuat sekali selama kegiatan berlangsung sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran sekaligus sebagai batasan-batasan materi yang akan disampaikan kepada Warga Belajar.

  1. 5. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Selama kegiatan ini berlangsung Tutor hanya membuat RPP sebanyak 3 buah yang dikembangkan selama 11 pertemuan.

  1. 6. Melaksanakan proses pembelajaran

Proses pembelajaran dilaksanakan sangat tergantung pada situasi dan kondisi WB agar mereka merasa nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan papan tulis sebagai tempat menulis tutor dan WB serta sabak sebagai tempat menulis WB selain menggunakan buku tulis.

  1. 7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar Warga Belajar

Penilaian proses dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung untuk mengetahui perkembangan dari masing-masing Warga Belajar sedangkan hasil belajar diperoleh setelah tutor memberikan evaluasi akhir pada setiap pertemuan.

2.2 Bahan Belajar, Media dan Sumber yang Dipergunakan

  1. Bahan Belajar

Bahan belajar sangat besar maanfaatnya dalam pemahaman materi oleh Warga Belajar. Bahan Belajar yang digunakan adalah bahan yang mudah mereka dapatkan di sekitar lingkungannya seperti di bawah ini :

Ä     Lidi, sapu

Ä     Cangkul

Ä     Jagung

  1. Media

Ä     Kartu huruf, kartu bilangan

Ä     Gambar-gambar, Poster

  1. Sumber

Selain menggunakan bahan belajar dan media pembelajaran, proses pembelajaran juga sangat memerlukan sumber-sumber belajar seperti :

Ä     Buku Tematik KF bantuan dari SKB Amlapura

Ä     Papan nama

Ä     Resep makanan

Ä     Formulir KTP

2.3 Hambatan dan Strategi Mengatasi Hambatan

  1. Hambatan

Hambatan yang ditemui dalam penyelenggaraan Keaksaraan Fungsional (tingkat keaksaraan dasar) adalah sebagai berikut :

ü      Keterbatasan kemampuan WB sehingga proses pembelajaran terhambat

ü      WB kurang aktif dalam pembelajaran

ü      WB masih malu-malu untuk mengikuti pembelajaran

  1. Strategi yang digunakan untuk mengatasi hambatan

Strategi yang dilakukan oleh tutor dalam mengatasi hambatan atau masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :

ü      Dengan memberlakukan strategi pembelajaran dengan menggunakan asas kebermaknaan dan kebermanfaatan sehingga WB lebih semangat untuk belajar karena hal yang diperoleh dalam pembelajaran bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

ü      WB yang kurang aktif dibentuk menjadi kelompok kecil dan diberikan permasalahan untuk dibahas. Dalam hal ini tutor hanya bertindak sebagai fasilitator untuk mendampingi WB dalam menyelesaikan masalahnya.

ü      Warga belajar yang masih merasa malu diberikan motivasi dan pendekatan persuasif serta memberikan gambaran tentang pentingnya pembelajaran keaksaraan fungsional bagi kehidupannya di masyarakat.

2.4 Komentar tentang Kemajuan dan Hasil Belajar Warga Belajar

No

Nama WB Komentar Tutor
1 I Nengah Kari -

-

-

Kemampuan membaca sudah ada peningkatan

Kemampuan menulis sudah ada peningkatan

Kemampuan menghitung sudah ada peningkatan

2 Ni Nengah Sukri -

-

-

Kemampuan membaca masih perlu dibina

Kemampuan menulis sudah ada peningkatan

Kemampuan menghitung sudah ada peningkatan

3 Ni Wayan Putra -

-

-

Kemampuan membaca sudah ada peningkatan

Kemampuan menulis masih perlu dibina

Kemampuan menghitung sudah ada peningkatan

4 Ni Nengah Kantun -

-

-

Kemampuan membaca sudah ada peningkatan

Kemampuan menulis masih perlu dibina

Kemampuan menghitung masih perlu dibina

5 Ni Nengah Murni -

-

-

Kemampuan membaca sudah ada peningkatan

Kemampuan menulis sudah ada peningkatan

Kemampuan menghitung sudah ada peningkatan

6 I Made Wija -

-

-

Kemampuan membaca masih perlu dibina

Kemampuan menulis masih perlu dibina

Kemampuan menghitung sudah ada peningkatan

7 Ni Wayan Astri -

-

-

Kemampuan membaca masih perlu dibina

Kemampuan menulis masih perlu dibina

Kemampuan menghitung masih perlu dibina

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran keaksaraan fungsional (tingkat keaksaraan dasar) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Untuk menuju ke arah kemajuan harus didukung oleh kemampuan dan keterampilan yang memadai. Untuk itu semua orang yang peduli terhadap pendidikan untuk ikut mengupayakan agar warga masyarakat yang belum bisa “CALISTUNG” mendapatkan pendidikan yang layak.
  2. Dalam proses pembelajaran, kegiatan yang dirancang harus dapat memotivasi Warga Belajar serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi Warga Belajar.
  3. Evaluasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan Warga Belajar serta untuk memberikan gambaran mengenai hasil dan dampak kegiatan yang dilaksanakan.

3.2 Saran

Dari apa yang disajikan di depan kiranya dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :

  1. Para guru yang peduli terhadap pendidikan, hendaknya melakukan suatu upaya untuk memajukan para warga masyarakat yang masih mengalami keterbelakangan agar bisa meningkatkan taraf hidupnya.
  2. Untuk meningkatkan efektifitas hasil belajar hendaknya tutor mengajak Warga Belajar untuk menyusun Program, RPP, dan menentukan materi yang akan dipelajari sesuai dengan situasi dan kondisi Warga Belajar.
About these ads
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 20, 2010 in Uncategorized

 

3 responses to “Keaksaraan Fungsional (KF)

  1. novi ariani

    Februari 20, 2010 at 1:54 pm

    hebat memberantas buta akasara!

     
  2. arya sudita

    Juli 15, 2010 at 1:17 pm

    thx’s bgt nie!!!
    refrensinya!!!
    kebetulan lagi dapt tgs jadi tutor!!!!
    thx’s bli,

     
  3. mudiartana

    November 16, 2012 at 10:55 am

    thanks infonya,,,mg manfaat bg smuanya

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: