RSS

FILOSOFIS CANANG DAN KWANGEN

13 Mei

Canang berasal dari bahasa jawa kuno yang pada mulanya berarti sirih, yang disuguhkan pada tamu yang sangat dihormati. Jaman dulu, sirih benar – benar bernilai tinggi. Setelah agama Hindu berkembang di Bali, sirih itupun menjadi unsur penting dalam upacara agama dan kegiatan lain. Di Bali, salah satu bentuk banten disebut “Canang” karena inti dari setiap canang adalah sirih itu sendiri. Canang  belum bisa dikatakan bernilai agama jika belum dilengkapi porosan yang bahan pokoknya sirih.

Perlengkapan canang adalah alasnya dipakai ceper atau daun pisang berbentuk segi empat, diatasnya berturut – turut disusun plawa, porosan, urasari kemudian bunga.

Makna masing – masing perlengkapan canang :

  1. Plawa adalah daun – daunan. Telah disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti bahwa plawa merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, sehingga dapat menangkal pengaruh busuk dari nafsu duniawi.
  2. Porosan adalah dari pinang dan kapur yang dibungkus daun sirih. Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan pinang, sirih dan kapur adalah lambang pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. Pinang lambang pemujaan pada Dewa Brahma, kapur lambang pemujaan pada Dewa Siwa, sirih lambang pemujaan pada Dewa Wisnu.
  3. Urasari adalah jejahitan, reringgitan, dan tetuwasan sebagai lambang ketepatan dan kelanggengan pikiran dan lambang permohonan pada TYME agar alam lingkungan hidup kita selaras dan seimbang.
  4. Bunga adalah lambang keikhlasan. Apapun yang mengikat diri kita di dunia ini harus kita ikhlaskan sebab cepat / lambat dunia inipun akan kita tinggalkan.

Jadi canang mengandung arti dan makna perjuangan hidup manusia dengan selalu memohon bantuan dan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, untuk dapat menciptakan, memelihara dan meniadakan yang patut diciptakan, dipelihara, dan ditiadakan demi suksesnya cita – cita hidup manusia yakni kebahagiaan.

Canang dari segi penggunaannya dan bentuk serta perlengkapannya ada beberapa macam, misalnya : Canang Genten, Canang Burat Wangi, Lenge Wangi, Canang Sari, Canang Meraka, dan lain – lain.

2.1    Filosofis Kewangen

Kewangen berasal dari bahasa jawa kuno yaitu kata “Wangi” yang artinya harum. Mendapat awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’ menjadi kewangian disandikan menjadi kewangen artinya keharuman yang berfungsi untuk mengharumkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa.

Kewangen digunakan sebagai sarana dalam upacara yaitu sebagai pelengkap upakara / bebantenan. Kewangen paling bangak digunakan dalam upacara persembahyangan. Selain itu juga sebagai pelengkap dalam upakara untuk upacara Panca Yadnya.

  1. Dewa Yadnya, sebagai pelengkap Banten Tetebasan, prascita, dan berbagai jenis sesayut.
  2. Rsi Yadnya, juga sebagai pelengkap Banten Tetebasan.
  3. Pitra Yadnya, dipakai dalam upacara menghidupkan mayat secara simbolis untuk diupacarakan yaitu pada setiap persendian tubuhnya.
  4. Manusia Yadnya, digunakan pada setiap upacara ngotonin, potong gigi, perkawinan, dan pelengkap banten.
  5. Bhuta Yadnya, digunakan dalam upacara memakuh, macaru, dll

Sarana untuk membuat kewangen :

  1. Kojong, dibuat dari selembar daun pisang yang berbentuk segitiga lancip melambangkan Ardacandra.
  2. Pelawa, potongan daun kayu seperti andong, pandan harum, puring, dan lain sejenisnya yang berwarna hijau lambang ketenangan.
  3. Porosan, dibuat dari dua lembar daun sirih digulung dengan posisi menengadah satu, telungkup satu, disatukan. Ini disebut porosan silih asih lambang hubungan timbal balik antara baktinya umat manusia dengan kasih Ida Sang Hyang Widhi.
  4. Kembang Payas, berbentuk cili, dibuat dari serangkaian jejahitan janur yang sudah diringgit / dibentuk. Melambangkan nada, reringgitan melambangkan rasa ketulusan hati.
  5. Bunga, yaitu bunga hidup yang masih segar dan berbau harum / wangi melambangkan kesegaran dan kesucian pikiran dalam beryadnya.
  6. Uang kepeng logam dua buah melambangkan Windu, uangnya melambangkan sesari / sarining manah. Selain itu uang berfungsi sebagi penebus segala kekurangan yang ada.
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Uncategorized

 

8 responses to “FILOSOFIS CANANG DAN KWANGEN

  1. I Gede Nastera

    September 28, 2011 at 7:48 am

    Umat hindu se-dharma kita syukuri tlah ad blog ya memuat filosofi hindu, truslah brkarya

     
  2. yandi

    Mei 21, 2012 at 8:31 am

    Tulisan yang bagus TOP.

     
  3. Gandhi

    Desember 7, 2012 at 9:07 am

    thanks infonya qaqa🙂

     
    • desiyani

      Oktober 20, 2014 at 11:55 am

      ya sama”

       
  4. Bagus Suryananta

    Oktober 9, 2013 at 11:46 am

    I like it🙂

     
  5. Ayu R

    Oktober 18, 2014 at 5:19 am

    Dear Sahabat dan pembaca, saya sudah membaca makna dan isi dari Kwangen tersebut.
    yang saya tanyakan disini, apakah kewangen untuk orang meninggal juga porosan nya pakai silih asih ? Dan apa makna kewangen di dalam menyembah Mayat orang yang meninggal ? ataupun yang sudah memasuki upacara Pitra Yadnya. Terima kasih/ Ayu

     
  6. desiyani

    Oktober 20, 2014 at 11:52 am

    kurang lengkap pengrtiannya

     
  7. aditya adnyana

    Januari 7, 2015 at 2:33 am

    astungkara menjadi panutan untuk generasi muda yg ingin hindu itu indah

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: