RSS

SUNYINYA HARIKU by NI PUTU EKA NOVITA ARIKAWATI (alm)

13 Mei

Indah dan terangnya sang mentari di atas sana disertai gemercik air sungai yang tenang, serta merdunya bunyi ayam berkokok menandai hari telah pagi. Mataku terbuka perlahan-lahan, terdengar suara ibu yang tatkala itu ingin membangunkan aku. Pagi telah datang lagi berarti hari-hariku telah berkurang 1 hari lagi, ya memang ini adalah rahasia terbesar dalam hidupku bahkan dari orang tuaku. Waktu itu aku sedang bertamasya dengan teman-temanku ke salah satu obyek wisata di sini, awalnya sihc aku baik-baik saja dan bahagia sekali tapi pada suatu malam paru-paruku terasa sakit sekali, bernafaspun aku susah, aku sangat panik tat kala itu, untunglah Rani temanku masuk ke kamarku disalah satu penginapan dimana kami menginap waktu itu. Dengan rasa gelisah ia langsung mengantarkanku ke rumah sakit yang dekat dari sana, di tengah lelapnya tidur teman-teman kami dan di tengah sunyinya malam, ia berusaha mencari angkot untuk membawaku ke rumah sakit, sudah hampir setengah jam kami menunggu namun satu angkot pun tak kunjung datang. Paru-paruku semakin sakit, nafasku terasa makin sesak, “Angkot ……. angkot” teriak Rani, oh Tuhan sukurlah ada angkot juga. Di rumah sakit pun kami masih harus menunggu karena masih banyak pasien, tat kala itu rasanya aku sudah tak punya semangat hidup lagi. Menunggu ….. menunggu  satu demi satu pasien yang tak kurun habis jua. “Ran … Ran aku udah gak tahan nafasku sesak banget”. “Tenang Sus bentar lagi giliran kita kok, sabar ya”!!! sambung Rani. Akhirnya giliran ku tiba dengan langkah kaki yang pelan aku masuk ke ruangan dokter, aku diperiksa kurang lebih 20 menit hatiku dag ….. dig ….. dug, tanganku bergemetaran menunggu hasil pemeriksaan dokter. “Bagaimana keadaan saya dok?” “Apakah anda pernah mengalami keluhan seperti ini dulu?” “Tidak dok, baru hari ini saja” jawabku. Ya Tuhan ternyata aku mengidap kanker paru-paru stadium lanjut, kata dokter penyakitku sudah parah. Aku syok mendengar kata-kata itu, aku terdiam dalam kesunyian, air mataku tak bisa tertahan lagi, Rani memelukku kencang, apalagi dokter bilang kalau hidupku tak lama lagi. Tersentak rasanya nafasku berhenti, “kenapa harus ini terjadi pada diriku Ran? kenapa?”. “Tenang  Sus, kamu harus tabah ya!”. Sepulang dari rumah sakit aku meminta Rani untuk merahasiakan ini semua dari siapapun termasuk orang tua ku.

Itulah masalah yang sampai saat ini aku rahasiakan, jarum jam menunjukkan pukul 07.00 aku harus segera bersiap-siap sebelum Rani datang menjemputku. Tit …. tit ….. tit terdengar suara bel motor Rani, itu artinya dia sudah datang menjemputku, aku bergesa turun ke bawah dan berpamitan pada orang tuaku. “Gak sarapan nak” tanya ibu yang sedang asik menikmati hidangan sarapan pagi. “Gak bu, nanti aja di sekolah, pergi ya bu” sahutku cepat, “hati-hati”. Di sekolah aku slalu terdiam, walau teman-temanku slalu ingin mengajakku bergaul, tapi sejujurnya aku malu dengan penyakit yang ada pada diriku ini. “Teng…. Teng …. Teng  bel masuk berbunyi aku terbangun dari lamunanku. Aku ikuti pelajaran dengan tenang, tiap hari aku memang slalu seperti ini, “Sus!” Aku terkaget ketika Rani menepuk punggungku. “Kenapa Ran?” tanyaku, “Sus kamu nanti pulang sama aku kan?” “Iya” sahutku. Jam istirahat adalah waktu yang paling aku benci karna aku tak bisa melihat keceriaan teman-temanku, sebenarnya aku ingin ikut bergabung dengan mereka, sering kali mereka mengajakku, tapi aku menghindar, aku takut mereka menjauhi ku setelah tau keadaanku. Hari-hariku slalu kulalui dengan kesendirian dan kesunyian, aku sangat berubah dari yang dulu sejak ku ketahui penyakitku ini. Suatu hari di rumah dadaku terasa sakit , paru-paruku sesak oh ya Tuhan obatku habis, aku lalu memberi tau keadaanku pada Rani, slama ini Rani slalu menyuruhku untuk jujur pada orang tuaku tapi aku slalu keras kepala karna aku takut mereka sedih mendengar kondisiku ini. Aku tak tau tiba-tiba ibu masuk ke kamarku ia melihat keadaanku yang sedang mengeluh kesakitan. Ibu panik dia tanpa basa-basi lagi langsung mengajakku ke rumah sakit. Hari itu sungguh pilu aku harus di rawat di rumah sakit, keluargaku menangis setiap hari sedihnya melihat aku dalam keadaan seperti ini, keadaan yang tak tentu. “Kenapa kamu rahasiakan semua ini dari kami nak” ibuku berkata dengan tangisnya yang membuat hatiku merasa sangat bersalah. Seminggu kemudian dokter membolehkan aku pulang namun penyakitku telah parah dan hidupku sudah tak lama lagi, disisa hidupku ini ingin ku isi hari-hariku dengan kebahagiaan bersama keluarga dan teman-temanku, walau hanya sementara dan sesaat sebelum kepergianku kelak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 13, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: